Kamis, 25 September 2014

PERGESERAN REAKSI KESETIMBANGAN

 

 

 

 

1. Pengertian pergeseran reaksi kesetimbangan



Azas Le Chatelier menyatakan:

‘’Bila pada sistem kesetimbangan diadakan aksi, maka sistem akan mengadakan reaksi sedemikian rupa sehingga pengaruh aksi itu menjadi sekecil-kecilnya.’’
Sehinga yang dimaksud dengan pergeseran reaksi kesetimbangan adalah perubahan dari keadaan kesetimbangan semula ke keadaan kesetimbangan yang baru akibat adanya aksi atau pengaruh dari luar.
misalnya :
pada reaksi A + B   <->  C + D
 Kemungkinan terjadinya  pergeseran :

-Dari kiri ke kanan, berarti A bereaksi dengan B memhentuk C dan D, sehingga jumlah mol A dan Bherkurang, sedangkan C dan D bertambah.

-Dari kanan ke kiri, berarti C dan D bereaksi membentuk A dan B. sehingga jumlah mol C dan Dherkurang, sedangkan A dan B bertambah.  

2.Faktor yang mempengaruhi atau menggeser letak kesetimbangan

Kesetimbangan reaksi dapat berubah jika terdapat perubahan konsentrasi pada salah  satu zat, perubahan volume atau tekanan, dan perubahan suhu.

a.Perubahan konsentrasi salah satu zat

  Apabila dalam sistem kesetimbangan homogen, konsentrasi salah satu zat diperbesar, maka kesetimbangan akan bergeser ke arah yang berlawanan dari zat tersebut. Sebaliknya, jika konsentrasi salah satu zat diperkecil, maka kesetimbangan akan bergeser ke pihak zat tersebut.
  Contoh: 2SO2(g) + O2(g)  <=>   2SO3(g)
 
- jika pada sistem kesetimbangan di atas ditambahkan  SO2, maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan.
- jika pada sistem kesetimbangan di atas dikurangi  O
2, maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri.

b.Perubahan volume atau tekanan

 -Jika tekanan diperbesar maka secara otomatis volume akan diperkecil, sehingga kesetimbangan akan bergeser ke arah jumlah Koefisien Reaksi Kecil.
-Jika
tekanan diperkecil maka secara otomatis  volume akan diperbesar, sehingga kesetimbangan akan bergeser ke arah jumlah Koefisien reaksi besar.
jika keadaan pada sistem kesetimbangan dimana jumlah koefisien reaksi
sebelah kiri sama dengan jumlah koefisien sebelah kanan, maka perubahan tekanan/volume tidak menggeser letak kesetimbangan.
 Contoh:
N
2(g) + 3H2(g)  <=>  2NH3
(g)

jumlah koefisien reaksi di sebelah kanan ada 2
jumlah koefisien reaksi di sebelah kiri ada 4
- Bila pada sistem kesetimbangan tekanan diperbesar (volume diperkecil), maka kesetimbangan akan
bergeser ke kanan.
- Bila pada sistem kesetimbangan tekanan diperkecil (volume diperbesar), maka kesetimbangan akan
bergeser ke kiri.  

c. Perubahan suhu

 Menurut Van't Hoff:
-
Bila pada sistem kesetimbangan suhu dinaikkan, maka kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah yang membutuhkan kalor (ke arah reaksi endoterm).

Bila pada sistem kesetimbangan suhu diturunkan, maka kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah yang membebaskan kalor (ke arah reaksi eksoterm).
 Contoh:
2NO(g) + O
2(g) <=> 2NO2(g) 
pada kesetimbangan diatas kemungkinan yang terjadi adalah :
- Jika suhu dinaikkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri.

- Jika suhu diturunkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan.  

3. Pengertian katalisator

 Katalisator adalah zat yang ditambahkan ke dalam suatu reaksi dengan maksud memperbesar kecepatan reaksi
sehingga fungsi katalisator dalam reaksi kesetimbangan adalah mempercepat tercapainya kesetimbangan dan tidak merubah letak kesetimbangan, hal ini disebabkan katalisator mempercepat reaksi ke kanan dan ke kiri sama besar.

4. Pengertian kesetimbangan disosiasi

Disosiasi adalah penguraian suatu zat menjadi beberapa zat lain yang lebih sederhana.
Derajat disosiasi adalah perbandingan antara jumlah mol yang terurai dengan jumlah mol mula-mula.
Besarnya nilai derajat disosiasi dilambangkan sebagai ''a''.
 Contoh:
pada kesetimbangan 2NH
3(g) <=>   N2(g) + 3H2(g)
 besarnya derajat disosiasi (a) =   mol NH3 yang terurai
                                                                mol NH3 mula-mula

5. Kesimpulan

a. Pergeseran reaksi kesetimbangan adalah perubahan dari keadaan kesetimbangan semula ke keadaan kesetimbangan yang baru akibat adanya aksi atau pengaruh dari luar.
b. Kesetimbangan reaksi dipengaruhi oleh perubahan konsentrasi pada salah  satu zat, perubahan volume atau tekanan, dan perubahan suhu.
 c.Katalisator berfungsi untuk mempercepat tercapainya kesetimbangan dan tidak merubah letak kesetimbangan, hal ini disebabkan katalisator mempercepat reaksi ke kanan dan ke kiri sama besar.
d. Perbandingan antara jumlah mol yang terurai dengan jumlah mol mula-mula disebut derajat disosiasi. 

Selasa, 23 September 2014

KIMIA PADA DETERGEN



1.Definisi detergen


Detergen adalah campuran berbagai bahan untuk membantu proses pembersihan atau pencucian dan terbuat dari bahan-bahan turunan minyak bumi. Detergen mempunyai daya cuci lebih baik dari pada sabun dan tidak terpengaruh oleh kesadahan air.


2.Penggolongan detergen


 A. Berdasarkan bentuknya :

-Detergen cair

-Detergen bubuk

-Detergen krim

B. Berdasarkan kandungan ionnya :

- Cationic detergent
Detergen jenis ini merupakan detergen yang memiliki kutub positif.

-Anionic detergent
Anionic detergen adalah jenis detergen yang memiliki gugus ion negatif.

-Neutral atau Non-Ionic-detergen
Pada detergen jenis neutral ini tidak memiliki gugus ion apapun dan tidak bereaksi dengaan ion yang terdapat dalam air sadah. Neutral detergen busanya lebih sedikit dari pada ionic detergen. Kegunaan detergen neutral biasanya untuk mencuci piring, lantai, kaca, dll.


3.Bahan yang terkandung dalam detergen


a. Surfaktan (surface active agent)

Zat ini merupakan kandungan utama pada detergen yang bersifat anionik (zat pembasah yang akan menyusup kedalam ikatan antara kotoran dan serat kain) dan bersifat kationik sebagai bakterisida (membunuh bakteri)
contoh :
- ABS (Alkil Benzene Sulfonate)
- LAS (Linier Alkil Benzene Sulfonate)

b. Builder (bahan pembentuk)

contoh :
- Sodium Tri Poly Phospate (STPP)
- Nitril Tri Acentate ( NTA)
- Ethilyne Diamine Tetra Acetate (EDTA)

c. Filler ( bahan pengisi)

contoh :
- Sodium Sulfate

d. Additives ( bahan tambahan)

contoh :
- Enzyme
- Borax
- Sodium Clorida
- CMC ( Carboksil Metil Celulosa)


4. Fungsi bahan penyusun pada detergen


a. Bahan penurun tegangan

Bahan inilah yang menghasilkan busa dan memegang peranan penting pada saat proses pencucian. Jenis bahan penurun tegangan permukaan yang dipakai oleh suatu detergen akan menentukan jenis dari detergen tersebut, yaitu :

- Detergen jenis keras
Pada detergen jenis keras ini bersifat sukar dirusak oleh mikroorganisme, meskipun bahan tersebut sudah dibuang seltelah proses pencucian namun zat tersebut masih dalam keadaan aktif sehingga dapat menyebabkan terjadinya pencemaran air.
contoh : ABS (Alkil Benzana Sulfonate)

- Detergen jenis lunak
Detergen jenis lunak bersifat mudah dirusak oleh mikroorganisme, sehingga tidak aktif  lagi setelah dipakai.
contoh : LAS (Lauril Alkil Sulfat)

b. Bahan penunjang

Bahan ini berfungsi menunjang kerja dari bahan penurun tegangan permukaan.
contoh : Natrium Tri Poly phospate
Saat di dalam air akan terionisasi menjadi :

Na5P3O10  => 5Na   + P3O10



c. Bahan pengisi

Bahan ini berfungsi untuk memadatkan dan memantapkan sehingga dapat menurunkan harga.
d. Bahan tambahan dan bahan pengikat
Bahan tambahan berfungsi untuk menambah daya guna detergen.
contoh : Karbooksil Metil Selulosa (CMC) digunakan agar kotoran yang telah dibawa oleh detergen ke dalam larutan tidak kembali lagi ke bahan cucian pada saat mencuci.
Parfum (Fragrance) ditambahkan pada detergen agar cucian berbau harum, sedangkan air sebagai bahan pengikatnya.


5. Reaksi dalam proses pembuatan detergen


Pada proses pembuatan detergen diawali dengan pembuatan bahan penurun tegangan permukaan, misalnya :

a. Detergen jenis keras (ABS)

Proses pembuatannya dengan mereaksikan Akil Benzana dengan Belerang Trioksida dan asam sulfat pekat sehingga menghasilkan Akil Benzana Sulfonate. Jika dipakai dodekil benzana maka reaksinya adalah :

C6H5C12H25  +  SO3    =>   C6H4C12H25SO3H

b. Detergen jenis lunak (LAS)

Pada proses pembuatan LAS adalah dengan mereaksikan Lauril Alkohol dengan Asam Sulfat Pekat, maka reaksinya dapat ditulis :


 C12H25OH   +  H2SO   =>    C12H25OSO3H   + H2O

6. Prinsip kerja detergen 

Detergen mengandung surfaktan yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan air. Pada dasarnya surfaktan membuatnya lebih basah sehingga lebih mudah berinteraksi dengan minyak dan lemak. Detergen mempunyai rantai molekul hidrofobik (rantai mol yang tidak suka air) dan rantai hidrofolik (rantai suka air). Hidrocarbon hidrofobik yang ditolak air tetapi ditarik oleh minyak dan lemak, sehingga dapat dikatakan salah satu ujung molekul akan tertarik ke air sementara sisi lain mengikat minyak. Air berdetergen yang mengelilingi kotoran memungkinkan detergen dapat menarik kotoran dari pakaian dan masuk ke air bilasan selanjutnya untuk dipisahkan.

7. Kesimpulan


a. Detergen lebih unggul dari pada sabun karena mempunyai daya cuci lebih baik dan tidak terpengaruh oleh kesadahan air.

b. Surfaktan merupakan kandungan utama pada detergen yang bersifat anionik dan kationik.

c. ABS merupakan zat yang menyebabkan terjadinya pencemaran air, karena ABS bersifat sukar dirusak oleh mokroorganisme.






Referensi Utama :

http://www.chem-is-try.org/materi-kimia/kimia-smk/kelas_xi/definisi-detergen/

http://ceeta.wordpress.com/2013/06/11/makalah-detergen/

http://nur-fatanah.blogspot.com/2012/04/zat-yang-terkandung-dalam-detergen.html

http://kimiaanas.blogspot.com/2012/10/kimia-detergen.html

http://urip.wordpress.com/2011/04/19/prinsip-kerja-detergen/