Kamis, 03 Desember 2015

PERANCANGAN TATA LETAK FASILITAS



Menurut Wignjosoebroto (2009), tata letak pabrik atau tata letak fasilitas dapat didefinisikan sebagai tata cara pengaturan fasilitas-fasilitas pabrik guna menunjang kelancaran proses produksi.

Perancangan fasilitas akan menentukan bagaimana aktivitas-aktivitas dari fasilitas – fasilitas produksi dari pabrik akan bisa diataur sedemikian rupa sehingga mampu menunjang upaya mencapai tujuan pokok secara efektif dan efisien. Untuk industri manufakturing , maka perencanaan aktivitas akan meliputi penetapan cara yang sebaik-baiknya agar fasilitas – fasilitas yang ada mampu menunjang kelancaran proses produksi . Perencanaan fasiltas ini akan dimulai dengan penetapan lokasi pabrik atau penetapan lokasi dimana fasilitas – fasilitas produksi harus ditempatkan.

Perencanaan fasilitas selanjutnya adalah berkaitan dengan proses perancangan fasilitas dan untuk tata letak pabrik disini meliputi pengaturan letak mesin, peralatan, dan fasilitas produksi lainnya yang ada dalam areal dibatasi oleh dinding-dinding pabrik. Dalam pengaturan tata letak fasilitas produksi, sekaligus disini akan dirancang pengaturan sistem pemindahan material.

Secara garis besar, tujuan utama dari perancangan tata letak adalah mengatur area kerja beserta seluruh fasilitas produksi di dalamnya untuk membentuk proses produksi yang paling ekonomis, aman, nyaman, efektif, dan efisien. Selain itu, perancangan tata letak juga bertujuan untuk mengembangkan material handling yang baik, penggunaan lahan yang efisien, mempermudah perawatan, dan meningkatkan kemudahan dan kenyamanan lingkungan kerja.

Tipe tata letak fasilitas produksi :

1. Tata letak fasilitas berdasarkan aliran produksi

Menurut Wignjosoebroto (2009), jika suatu produk secara khusus memproduksi suatu macam produk atau kelompok produk dalam jumlah besar dan waktu produksi yang lama, maka semua fasilitas produksi dari pabrik tersebut diatur sedemikian rupa sehingga proses produksi dapat berlangsung seefisien mungkin.

2. Tata letak fasilitas berdasarkan lokasi material tetap

Menurut Wignjosoebroto (2009), tata letak fasilitas berdasarkan proses tetap, material atau komponen produk utama akan tetap pada posisi/lokasinya. Sedangkan fasilitas produksi seperti alat, mesin, manusia serta komponenkomponen kecil lainnya akan bergerak menuju lokasi material atau komponen produk utama tersebut.

3. Tata letak fasilitas berdasarkan kelompok produk

Tata letak tipe ini didasarkan pada pengelompokkan produk atau komponen yang akan dibuat. Produk-produk yang tidak identik dikelompok berdasarkan langkah-langkah proses, bentuk, mesin atau peralatan yang dipakai dan sebagainya. Disini pengelompokkan tidak didasarkan pada kesamaan jenis produk akhir seperti halnya pada tipe produk tata letak. Pada tipe kelompok produk, mesin-mesin atau fasilitas produksi nantinya juga akan dikelompokkan dan di tempatkan dalam sebuah manufacturing sel. Karena disini setiap kelompok produk akan memiliki urutan proses yang sama maka akan menghasilkan tingkat efisien yang tinggi dalam proses manufakturingnya.

4. Tata letak fasilitas berdasarkan fungsi atau macam proses

Menurut Wignjosoebroto (2009), tata letak berdasarkan macam proses sering dikenal dengan proses atau tata letak berdasarkan fungsi adalah metode pengaturan dan penempatan dari segala mesin serta peralatan produksi yang memiliki tipe atau jenis sama ke dalam satu departemen.



Keuntungan yang didapat berupa kenaikan jumlah produksi, mengurangi waktu tunggu, mengurangi waktu proses pemindahan bahan, penghematan penggunaan area untuk produksi, gudang, dan pelayanan, kemudian pendayagunaan yang lebih besar dari pemakaian mesin, tenaga kerja, dan fasilitas produksi. Selain itu, proses manufakturing yang lebih singkat, mengurangi resiko bagi kesehatan dan keselamatan kerja dari operator, memperbaiki moral dan kepuasan kerja, mempermudah aktivitas supervisi, mengurangi kemacetan dan kesimpangsiuran, dan mengurangi faktor yang bisa merugikan dan mempengaruhi kualitas dari bahan baku ataupun produk jadi.







Referensi:

1. http://kwdutami09.blogspot.co.id/2012/09/perancangan-tata-letak-fasilitas.html

2. Husein, Toriq. Pengantar teknik industri perancangan tata letak fasilitas.

3. https://www.google.co.id/search?q=perancangan+tata+letak+fasilitas&biw=1024&bih=667&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjwsKKS-b_JAhUBjo4KHUv9CjIQ_AUIBygC&dpr=1#tbm=isch&q=+tata+letak&imgrc=DQdbCwxWhZ7exM%3A

4. http://gunawidya.com/tata_letak_pabrik_pemindahan_bahan/

5. Wignjosoebroto, Sritomo. 2009. Tata letak pabrik dan pemindahan bahan. Guna Widya: Jakarta.

Selasa, 24 November 2015

MANAJEMEN RISIKO



A. Pengertian manajemen risiko


Secara etimologis terdiri dari kata manajemen yang berarti mengatur dan mengolah. Sedangkan risiko adalah hambatan atau masalah. Jadi manajemen risiko adalah cara mengatur atau mengolah suatu masalah.
Pendapat tentang manajemen risiko :


1. Manajemen risiko adalah suatu pendekatan terstruktur dalam mengelola ketidakpastian yang berkaitan dengan ancaman. (Wikipedia)

2. Istilah manajemen mengacu pada suatu proses mengkoordinasi dan mengintregasikan kegiatan-kegiatan kerjaagar diselesaikan secara efisien dan efektif dengan dan melalui orang lain. (Murni Yulianti, 2010)
3. Manajemen risiko digunakan sebagai suatu pendekatan yang komprehensif untuk menangani semua kejadian yang menimbulkan kerugian. (Clough and sears, 1994)
4. Manajemen risiko merupakan proses terstruktur dan sistematis dalam mengidentifikasi, mengukur, memetakan, mengembangkan alternative penanganan risiko dan memonotor serta mengendalikan penanganan risiko. (Djohanputro, 2008)

B. Manfaat manajemen risiko


1. Berguna untuk mengambil keputusan dalam menangani masalah-masalah yang rumit.
2. Memudahkan estimasi biaya.
3. Memberikan pendapat dan intuisi dalam pengambilan keputusan dengan cara yang benar.
4. Meningkatkan pendekatan sistematis dan logika untuk membuat keputusan.
5. Menyediakan pedoman untuk membantu perumusan masalah.



C. Proses manajemen risiko

Proses manajemen risiko terdiri dari tiga hal, yaitu :identifikasi resiko, mengukur resiko dan manajemen resiko. (T. Sunaryo, 2007)
Secara garis besar manajemen resiko terdiri dari tahap-tahap sebagai berikut :
1. Perencanaan
Perencanaan manajemen risiko bias dimulai dengan menetapkan visi, misi dan tujuan yang berkaitan dengan manajemen risiko.
2. Pelaksanaan
Pelaksanaan manajemen risiko meliputi aktivitas operasional yang berkaitan dengan manajemen risiko. Kegiatan tersebut meliputi :
a. Identifikasi resiko.
b. Evaluasi dan pengukuran risiko.
c. Pengelolaan risiko.
3. Pengendalian
Pengendalian meliputi evaluasi secara periodic pelaksanaan manajemen risiko.

D. Jenis-jenis resiko dalam bisnis

Ada dua jenis risiko, yakni risiko murni dan risiko spekulatif. Risiko murni atau risiko yang apabila terjadi menimbulkan kerugian dan terjadinya tanpa sengaja. Umumnya bisa diasuransikan. Contoh risiko murni adalah terjadi kebakaran, bencana alam atau banjir. Jadi risiko yang terjadinya tidak kita inginkan atau tidak kita sengaja. 
Sementara jenis risiko spekulatif adalah risiko yang sengaja ditimbulkan oleh yang bersangkutan, agar terjadinya ketidakpastian memberikan peluang keuntungan kepadanya. Umumnya tidak bisa diasuransikan. Contoh dari risiko ini adalah : kita menggunakan modal untuk membuka usaha rumah makan, atau digunakan untuk investasi membangun pembangkit baru. Dalam membuka usaha baru ini pasti akan ada kemungkinan risiko rugi, tapi juga ada peluang untuk memperoleh keuntungan.


E. Prinsip manajemen risiko

1. Manajemen risiko harus memounyai nilai tambah.
2. Manajemen risiko adalah bagian terpadu dalam organisasi.
3. Manajemen risiko adlah bagian dari proses pengambilan keputusan.
4. Manajemen risiko secara khusus menangani masalah ketidakpastian.
5. Manajemen risiko bersifatsistematik, terstruktur dan tepat waktu.
6. Manajemen risiko berdasarkan informasi terbaik yang tersedia.

F. DAFTAR PUSTAKA

1. https://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_risiko


2. Yulianti Murti. 2010. Managemen Risiko dan Aplikasinya Dalam Bank Syariah. Jakarta: 
Univ. Syarif Hidayatullah.

3. Clough, R.H.,Sears,G.A., & Sears S. K. 1994. Construktion Project Management. John Wiley and Sons: New York.


4. Djohanputro, Bramantyo. 2008. Prinsip-prinsip ekonomi makro. Jakarta: Penerbit PPM.


5. http://akuntansi.upi.edu/sia-1/manajemen-risiko/konsep-manajemen-risiko/


6. Sunaryo, T. 2007. Manajemen Risiko Finansial. Jakarta: Salemba Empat.

7. https://books.google.co.id/books?hl=id&lr=&id=HnItALKRDyIC&oi=fnd&pg=PT19&dq=buku+manajemen+resiko&ots=gE090G8qQF&sig=eOZBmq_lpxw6FE_knJcV31k_AKk&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false


8. http://rajapresentasi.com/2011/09/jenis-jenis-risiko-dalam-bisnis-manajemen-risiko/

Sabtu, 12 September 2015

RSK SKRIPSI 2

PERENCANAAN KONSTRUKSI OVERHEAD TRAVELING CRANE UNTUK UKURAN MINI


Disusun oleh,

      Nama              : Mochammad Fadly

      NIM                 : 4130401038

      Program Studi : Teknik Industri 

      A.      Tujuan
Untuk merencanakan peralatan mesin pengangkat serta mempelajari peralatan pengangkat overhead traveling ukuran mini.

      B.      Metode
a.      Eksperimental
Eksperimen diakukan di lab mesin FT UMB menggunakan data-data atau parameter yang terdapat pada alat tersebut baik ukuran, beban, jarak antar reil, tinggi pengangkat, dan jarak melintang.

      b.      Studi pustaka
Studi pustaka dilakukan di perpustakaan UMB. 

      C.      Pembahasan
Overhead traveling crane merupakan alat pemindah beban dalam tiga arah, yaitu naik-turun (vertical), melintang sepanjang grinder dan traversing sepanjang rel.Faktor yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan crane:

      a.      Jenis ddan sifat Bahan
b.      Kapasitas pemakaian (terus-menerus, periodik, sewaktu-waktu)
c.       Arah jarak pemindahan
d.      Cara pembuatan dan pembongkaran
e.      Bentuk dan ukuran ruang

      Bagian-bagian crane :

      a.      Peralatan pengangkut(hoisting equipment)
·         kabel/tali baja
·         Drum penggulung
·         Pulley
·         Kait
·         Roda gigi transmisi
·         Rem
·         Motor penggerak

      b.      Peralatan trolley(trolley equipment)
·         Whell
·         Roda gigi
·         Motor penggerak

      c.       Jembatan lintas trolley(grinder)
Berfungsi melakukan gerak horizontal.  

      Bagian perencanaan meliputi:

      a.      Perencanaan grinder dibuat dengan alumunium propel sebagai alur gerak horizontal.
b.      Perencanaan sadle sebagai pembawa grinder pada arah melintang dan tempat roda penggerak ditempatkan.
c.       Perancangan roda berbentuk seperti pola huruf H  pada potongannya, sehingga apabila bekerja suatu gaya dan hentakan yang keras maka roda todak keluar dari rel.
d.      Perancangan bentuk trolly
Motor DC dihubungkan dengan sumber energi yang dikontrol melalui system control akan menghasilkan energi putar. Energi putar tersebut akan diteruskan ke roda, sehingga membawa trolly bergerak sesuai putaran roda. 

      D.     Kritik
Pembuatan traveling crane dalam ukuran mini dapat membantu memahami konsep konstruksi dan cara kerja crane yang asli secara sederhana.

       E.      Saran
Agar traveling crane dapat bekerja sesuai fungsinya, maka perlu dilakukan optimasi dengan mempertimbangkan kekuatan Bahan dan factor lain yang tujuannya mendapatkan hasil rancangan traveling crane yang sempurna.

RSK SKRIPSI 1

INVESTASI MESIN RUBBER INJECTION BERDASARKAN UMUR EKONOMIS MESIN DI PT. IRC INOAC INDONESIA RUBBER GOODS DIVISION

Nama                          : Sigit Prasojo

NIM                             : 41611110065

Program Study            :Teknik industry 

A.      Tujuan
Menentukan umur ekonomi mesin rubber injection Sanyu-Japan untuk memudahkan perencanaan investasi mesin.

B.      Metode yang dipakai
Metode nilai sekarang bersih, yaitu metode yang didasarkan padaa konsep keekivalenan nilai dari seluruh arus kas relative terhadap beberapa dasar atau titik awal yang disebut waktu sekarang. Pada metode ini perhitungan nya menggunakan perhitungan ekonomi teknik.C.      Pembahasan
Mesin Sanyu-Japan merupakan mesin untuk produksi komponen-komponen otomotif dan part industry yang berbahan dasar karet. Untuk menentukan umur ekonomi mesin tersebut maka dilakukan penelitian dengan menghitung nilai ekonomi tekniknya.


Data mesin
Sanyu-Japan
Harga
US $ 41.562
Daya listrik (KWh)
20
Biaya operasional /tahun
US $ 8.001
Biaya perawatan / tahun
US $ 208
Kenaikan peraatan / tahun
US $ 15,64
Biaya perawatan khusus
US $  312,89
Nilai jual kembali
US $  521
Bunga
12%

Dengan menghitung nilai ekonomi tekniknya maka diperoleh :

a.      Nilai jual kembali                             : US $ 41.394
b.      Biaya perawatan per lima tahun        : US $ 31,42
c.       Biaya kenaikan perawatan               : US $ 56,06
d.      Umur ekonomis mesin                      : 8,04 tahun

Perhitungan dengan ekonomi teknik tersebut didapat bahwa umur  ekonomis mesin adalah 8,04 tahun. Umur tersebut merupakan berapa lama mesin tersebut mempunyai biaya total minimum sehingga mesin tersebut menguntungkan bagi perusahaan. Mesin tersebut sudah dibeli sejak tahun 2000 dan umurnya sudah mencapai 12 tahun, sehingga sudah selayaknya dilakukan pergantian mesin karena sudah lebih dari umur ekonomis yang sudah dilakukan perhitungan sebelumnya.

D.     Kritik
Perusahaan adalah suatu organisasi yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai keuntungan. Keseluruhan proses produksi pasti berhubungan dengan mesin yang mempunyai umur ekonomis. Dalam rangka meningkatkan keuntungan perusahaan perhitungan umur ekonomis mesin produksi sangat diperlukan. Dengan diadakannya perhitungan tersebut maka dapat diketahui kapan suatu mesin harus diremajakan sehingga biaya perawatan mesin dapat di minimalisasi.

E.      Saran
Kebutuhan mesin yang ada dan pergantian mesin dilakukan apabila kapasitas tetap ataupun bertambah, sehingga investasi pergantian mesin akan menguntungkan perusahaan.